Ulasan Peristiwa Terjatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Ulasan Peristiwa Terjatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Ulasan PeristiwaTerjatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 – Dimana Kita Mengetahui Apa Yang telah terjadi peristiwa terjatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Pada 9 Januari 2021 Yang Cukup Mengagetkan Semua Pihak di Dunia dalam kondisi pandemi ini.

Ulasan Peristiwa Terjatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

ulasan-peristiwa-terjatuhnya-pesawat-sriwijaya-air-sj-182
Sumber : kompas.com

www.em-dat.net – Dimana Sriwijaya air Jatuh di Perairan perairan Kepulauan Seribu dan Banyak Dugaan Terjatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Diperkirakan Meledak Sebelumm Jatuh kedasar Lautan Kepulauan Seribu Pada Saat Itu.

Namun Kita Semua Juga Belum mengetahui apa yang terjadi pastinya,
Cuaca Saat itu diperkirakan mendung dan hujan tidak terlalu lebat,

Pada Kesempatan kali ini, kami akan memberikan informasi seputar kisah terjadinya terjatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

1. Nelayan Saksi Sriwijaya Air Jatuh: Seperti Kilat ke Arah Laut

Nelayan Saksi Sriwijaya Air Jatuh Seperti Kilat ke Arah Laut
Sumber : bekasi.pikiran-rakyat.com

Seorang nelayan nelayan kepiting kecil Hendrik Mulyadi (Hendrik Mulyadi) menggambarkan sebuah pesawat Sriwijaya Air SJ-182 jatuh ke laut pada Sabtu (9/1) sore di perairan Pulau Lancang-Pulau Male, Kepulauan Seribu sesaat. Saat kejadian naas tersebut, dia berada di sekitar lokasi yang diduga kuat menjadi lokasi jatuhnya pesawat.Dua rekannya adalah awak kapal pencari kepitingnya. Ujar Nelayan: “Saat itu hujan deras, dan kami bertiga berkonsentrasi memancing bubu (perangkap kepiting kecil) di laut.”

Pria berusia 30 tahun itu melanjutkan: “Tiba-tiba ada petir di atas air, diikuti dengan suara yang keras, dan puing-puing beterbangan ke permukaan (ombak) sangat tinggi. Untung saja perahu saya tidak buruk.”

Usai rentetan kejadian yang berlangsung kurang dari dua menit, Hendrick mengaku tak bisa berbuat apa-apa selain ingin tahu apa yang terjadi. Dia mengira itu adalah bom yang jatuh dan meledak.

Namun, Hendrick mengaku, sesaat sebelum kejadian, dia tidak mendengar suara mesin pesawat sebelum ledakan keras, dan tidak melihat nyala api yang membubung sesaat setelah kejadian.

Dia berkata: “Tidak ada suara mesin. Pada saat kejadian Kecelakaan, tidak ada api yang terlihat, hanya asap putih, puing-puing yang beterbangan, gelombang besar air, dan bau seperti bahan bakar.”

Meski tidak cedera dan perahunya tidak rusak, Hendrick mengaku masih gemetar, sehingga kurang puas dengan pola makan dan tidurnya, sehingga tidak bisa mencari kepiting seperti semula.

Bersamaan dengan itu, warga di pedalaman Pulau Lancang mengaku mendengar suara gemuruh, seperti suara gemuruh yang terdengar saat jendela rumah diguncang hujan deras sekitar pukul 14.40 usai hujan deras.

Junana (40 tahun), warga Pulau Langcang, mengutip Antara mengatakan: “Hari itu hujan deras, hujan deras, tiba-tiba terdengar suara“ atter ”dan rumah (kaca) bergetar. .

Menurut Junana, ada orang yang sedang memancing, menangkap rajungan, dan ada juga yang berlindung dari hujan di dalam rumahnya.

“Ya Allah, suara apa itu, karena keras sekali, seperti bom. Tapi saya dan anak-anak saya tidak keluar karena saya mengira itu hanya petir di tengah hujan,” kata Junana. Rumah ini hanya berjarak 200 meter dari pantai.

Pukul 16.00 WIB, dia baru mengetahui ada maskapai Sriwijaya Air yang kehilangan kontak di dekat perairan Kepulauan Kuril.

Dari pemberitaan nelayan yang melaut, warga Pulau Lancang mengetahui bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh pesawat terbang.

Marsu menuturkan: “Nelayan yang baru pulang mengetahui ada pesawat jatuh di sana (di perairan Pulau Lancang-Pulau Male). Saya langsung teringat, oh, mungkin sore ini (saat hujan), saya pikir ada banyak petir. ”, Ketua RT 001 / RW 001 Pulau Lancang.

Ia mengatakan, setelah mendapat kabar tersebut, pihaknya langsung mengutus banyak warga Pulau Lancang untuk melakukan pencarian dan evakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat. Lokasi kecelakaan itu ditemukan milik Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Puntanak, dengan nomor registrasi PK-CLC.

“Akhirnya aparat di sini berinisiatif mengumpulkan warga dan melakukan penggeledahan sebanyak-banyaknya hingga terhenti sekitar pukul 21.00 WIB,” kata Marsu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Sriwijaya Aircraft Company, nomor registrasi PK-CLC adalah nomor penerbangan SJ-182

Itu jatuh di Kepulauan Seribu antara Pulau Lancang dan Pulau Male.

Pesawat Boeing 737-500 kehilangan kontak 11 mil laut di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan meningkatkan ketinggiannya hingga 13.000 kaki.

Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 14.36 WIB. Jadwal penerbangan lebih lambat 13.35 WIB dari jadwal penerbangan sebelumnya. Keberangkatan ditunda karena faktor cuaca.

Menurut data inventarisasi, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu mampu mengangkut 62 orang, termasuk 50 penumpang dan 12 awak. Informasi lengkap, 40 dewasa, 7 anak, 3 bayi. Pada saat yang sama, 12 awak tersebut terdiri dari 6 awak aktif dan 6 anggota awak tambahan.

Baca Juga : 5 Kecelakan Terbesar Pesawat Dalam Penerbangan Dunia Yang Terjadi Pada Tahun 90 an

2. Total 47 Korban Sriwijaya Air SJ 182 Teridentifikasi, Ini Daftar Namanya

Total 47 Korban Sriwijaya Air SJ 182 Teridentifikasi, Ini Daftar Namanya
Sumber : megapolitan.kompas.com

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri kembali mengidentifikasi 4 korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada Kamis (21/1/2021). “Tim berhasil mengidentifikasi 4 korban pada hari ini, sehingga korban yang berhasil diidentifikasi sebanyak 47,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Rusdi Hartono, di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (21/1/2021). Dari 47 korban yang telah teridentifikasi, 35 jenazah di antaranya telah diserahkan kepada pihak keluarga. Sementara itu, Jasa Raharja telah memberikan santunan kepada 39 ahli waris korban. “Dari 43 jenazah yang sudah teridentifikasi sampai pada tanggal 20 (Januari) kemarin, Jasa Raharja telah menyelesaikan atau menyerahkan santunan kepada 39 ahli waris korban,” kata Direktur Utama Jasa Raharja, Budi Rahardjo

Berikut daftar korban Sriwijaya Air SJ 182 yang telah teridentifikasi: Okky Bisma (30), pramugara Sriwijaya Air, teridentifikasi 11 Januari 2021 Fadly Satrianto (38), co-pilot NAM , teridentifikasi 12 Januari 2021 Khasanah (50), teridentifikasi 12 Januari 2021 Asy Habul Yamin (36), teridentifikasi 12 Januari 2021 Indah Halimah Putri (26), teridentifikasi 13 Januari 2021 Agus Minarni (47), teridentifikasi 13 Januari 2021 Ricko Mahulette (32), teridentifikasi 14 Januari 2021 Ihsan Adhlan Hakim (33), teridentifikasi 14 Januari 2021 Supianto (37), teridentifikasi 14 Januari 2021 Pipit Supiyono (23), teridentifikasi 14 Januari 2021 Mia Tresetyani (23), pramugari Sriwijaya Air, teridentifikasi 14 Januari 2021 Yohanes Suherdi (37), teridentifikasi 14 Januari 2021 Toni Ismail (59), teridentifikasi 15 Januari 2021 Dinda Amelia (15), teridentifikasi 15 Januari 2021 Isti Yudha Prastika (34), teridentifikasi 15 Januari 2021 Putri Wahyuni (25), teridentifikasi 15 Januari 2021 Rahmawati (59), teridentifikasi 15 Januari 2021 Arneta Fauziah, teridentifikasi 16 Januari 2021 Arifin Ilyas (26), teridentifikasi 16 Januari 2021 Makrufatul Yeti Srianingsih (30), teridentifikasi 16 Januari 2021 Beben Sopian (58), teridentifikasi 16 Januari 2021 Nelly (49), teridentifikasi 16 Januari 2021 Rizky Wahyudi (26), teridentifikasi 16 Januari 2021 Rosi Wahyuni (51), teridentifikasi 16 Januari 2021 Fao Nuntius Zai, bayi berumur 11 bulan, teridentifikasi 17 Januari 2021 Yuni Dwi Saputri (34), pramugari Sriwijaya Air, teridentifikasi 17 Januari 2021 Iu Iskandar (52), teridentifikasi 17 Januari 2021 Oke Dhurrotul Jannah (24), pramugari NAM Air, teridentifikasi 17 Januari 2021 Satu korban tidak disebutkan namanya, teridentifikasi 17 Januari 2021 Didik Gunardi (49), pramugara NAM Air, teridentifikasi 18 Januari 2021 Athar Rizki Riawan (8), teridentifikasi 18 Januari 2021 Gita Lestari (36), pramugari Sriwijaya Air, teridentifikasi 18 Januari 2021 Fathima Ashalina (2), teridentifikasi 18 Januari 2021 Rahmania Ekananda (39), teridentifikasi 18 Januari 2021 Kolisun (37), teridentifikasi 19 Januari 2021 Grislend Gloria Natalies (28), teridentifikasi 19 Januari 2021 Faisal Rahman (30), teridentifikasi 19 Januari 2021 Andi Syifa Kamila (26), teridentifikasi 19 Januari 2021 Shinta (23), teridentifikasi 19 Januari 2021 Mulyadi (39), teridentifikasi 19 Januari 2021 Yulian Andhika, teridentifikasi 20 Januari 2021 Ratih Windania, teridentifikasi 20 Januari 2021 Teofilius Ura, teridentifikasi 20 Januari 2021 Sevia Daro (24), teridentifikasi 21 Januari 2021 Angga Fernanda Afrion (27), teridentifikasi 21 Januari 2021 Rion Yogatama (29), teridentifikasi 21 Januari 2021 Rusni (44), teridentifikasi 21 Januari 2021

3. 30 Jenazah Korban Sriwijaya Air Telah Diserahkan ke Pihak Keluarga

30 Jenazah Korban Sriwijaya Air Telah Diserahkan ke Pihak Keluarga
Sumber : nesiatimes.com

Kepala Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati Brigjen Pol Asep Hendra mengatakan, hingga saat ini 43 jenazah korban Sriwijaya air SJ 182 sudah teridentifikasi. Dari jumlah itu, 30 jenazah sudah diserahkan kepada pihak keluarga korban. “Sampai hari ini telah teridentifikasi sejumlah 43 jenazah dan sudah diserahkan sejumlah 30 jenazah kepada keluarga. Nanti akan kami rilis temuan identifikasi lanjutan,

Kepala Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati Brigjen Pol Asep Hendra mengatakan, hingga saat ini 43 jenazah korban Sriwijaya air SJ 182 sudah teridentifikasi. Dari jumlah itu, 30 jenazah sudah diserahkan kepada pihak keluarga korban. “Sampai hari ini telah teridentifikasi sejumlah 43 jenazah dan sudah diserahkan sejumlah 30 jenazah kepada keluarga. Nanti akan kami rilis temuan identifikasi lanjutan,

“Identifikasi oleh Tim DVI Polri terus dilaksanakan sampai semua bahan pemeriksaan, baik bagian tubuh korban yang diperiksa melalui pemeriksaan DNA termasuk properti dari korban diperiksa melalui fase rekonsiliasi dan memperoleh hasil,” ujar Asep. “Kalau ada lagi kantong jenazah atau properti yang baru, yang berhubungan dengan kejadian tesebut maka pemeriksaan akan dilanjutkan kembali,” lanjut dia. Operasi pencarian badan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 serta para penumpangnya yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 ditutup pada hari ini setelah berlangsung selama 13 hari. Namun, operasi lanjutan akan dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mencari bagian dari kotak hitam, yakni memori cockpit voice record (CVR) yang masih belum ditemukan. Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 hilang kontak di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, sekitar pukul 14.40 WIB atau 4 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang pada 9 Januari itu. Pesawat mengangkut 62 orang, yang terdiri dari enam kru, 46 penumpang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi. Pesawat tersebut kemudian diketahui jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

4. Misteri Sinyal SOS Sriwijaya Air SJ182 di Pulau Laki

Misteri Sinyal SOS Sriwijaya Air SJ182 di Pulau Laki
Sumber : ringtimesbanyuwangi.pikiran-rakyat.com

Media sosial sempat dihebohkan dengan kemuculan sinyal SOS di Pulau Laki, Kepulauan Seribu pada Rabu (20/1/2021). Sinyal yang bertuliskan SOS itu muncul pada aplikasi Google Maps, yang sebelumnya diketahui menjadi lokasi tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182.

Banyak warganet yang berharap dengan kemunculan sinyal SOS agar masih ada korban yang selamat dari tragedi pesawat itu. Pilot sekaligus Youtuber Vincent Raditya atau Captain Vincent menjelaskan fenomena tersebut dalam unggahan video kanal YouTube miliknya yang bertajuk “misteri Sinyal SOS Viral di Pulau Laki! Apa itu SOS?”, pada Jumat (22/1/2021).

Captain Vincent memaparkan awal mula sinyal SOS muncul pada saat dunia perkapalan. Saat itu, lanjut dia, komunikasi tidak secanggih dengan zaman sekarang.

Di mana ketika kita ingin berkomunikasi saja itu butuh effort yang sangat besar. Apalagi kita berbicara tentang angkutan transportasi. Jaman dulu belum ada transportasi udara, tapi ada transportasi laut, seperti kapal-kapal yang cukup besar,” kata Vincent seperti dikutip, Jumat (22/1/2021).

Vincent memaparkan bahwa pada tahun 1900, sinyal SOS banyak disalahartikan. Jika dilihat dari sejarahnya, arti SOS bukanlah untuk mencari pertolongan.

Menurutnya, sinyal SOS banyak disangka-sangka sebagai Save Our Soul atau sering diartikan sebagai Save Our Ship.

“Memang kalau kita lihat dari singkatannya, bisa jadi dibilang seperti itu,” ujarnya.

Dia mejelaskan sinyal SOS dengan kode morse “…—…” merupakan kombinasi dari 3 huruf, yaitu S yang di-coding dengan 3 titik, O yang dikoding dengan 3 garis, dan S lagi dengan 3 titik.

Siapa pun di area yang mendengar morse code ini, lanjutnya, sudah mengetahui bahwa ada kapal yang lagi distress.

“Artian simple [sederhana] seperti itu,” imbuhnya.

Setiap negara, sambung dia, memiliki distress code masing-masing. Namun, ketika kapal melintas antar negara, dikhawatirkan ketika salah satu kapal lagi distres, negara lain tidak bisa mengetahui ketika kapal membutuhkan bala bantuan.

Kemudian pada 1906, Komite Internasional menyatakan SOS menjadi standar di seluruh dunia. Sinyal tersebut mulai efektif pada 1908 dimana distress signal di seluruh dunia menjadi SOS.

Dikarenakan teknologi semakin baik, dia menuturkan kode morse sudah tak hanyak digunakan dan diganti dengan kata-kata distress.

“Jadi bukan lagi kode, akan tetapi kata-kata, yaitu Mayday. Mulai tahun 1927, Mayday jadi distress signal yang dikatakan,” ujarnya.

Apabila berbicara dengan arti SOS sekarang, maka sinyal tersebut menujukkan kata-kata bahaya, permintaan tolong, atau distress code.

Captain Vincent mengatakan SOS cocok dijadikan sebagai distress signal karena bisa dibaca dari atas ke bawah, bawah ke atas, dari kiri ke kanan, serta kanan ke kiri dengan arti sama.

Melihat adanya sinyal SOS di Pulau Laki pada Google Maps, Vincent mengatakan bahwa Google selalu terasosiasi dengan data. Dengan kata lain, sinyal SOS itu adalah data yang diisi.

“Intinya, siapa pun bisa add places di Google yang bisa diakses oleh semua orang,” imbuhnya.

Vincent meminta masyarakat yang tidak berkepentingan pada tragedi pesawat Sriwijaya Air SJ182 agar tidak memasukkan data yang tidak valid karena bisa menyebabkan kekecauan.

“Saya sangat berharap agar orang-orang yang tidak berkepentingan tidak asal memasukkan data yang tidak seharusnya dimasukkan dan menyebabkan chaos. Ini kurang baik,” pungkasnya.