5 Kecelakan Terbesar Pesawat Dalam Penerbangan Dunia Yang Terjadi Pada Tahun 90 an

5 Kecelakan Terbesar Pesawat Dalam Penerbangan Dunia Yang Terjadi Pada Tahun 90 an

5 Kecelakan Terbesar Pesawat Dalam Penerbangan Dunia Yang Terjadi Pada Tahun 90 an – Perjalanan Menggunakan Transportasi Udara Merupakan Keinginanan terbesar Bagi Setiap orang, Namun Tak Banyak Juga orang yang tidak ingin menggunakan transportasi tersebut dengan alasan ketinggian Ataupun Masalah Ekonomi Mereka Tersendiri.

5-kecelakan-terbesar-pesawat-dalam-penerbangan-dunia-yang-terjadi-pada-tahun-90-an
Sumber : teknologi.id

www.em-dat.net – Namun Perjalanan Menggunakan Transportasi Udara memanglah di idamkan pada setiap perjalanan setiap orang, karena masalah waktu yang cepat sampai tujuan jika menempuh perjalanan yang jauh

Perjalanan Untuk memakai pesawat sejauh ini menjadi moda trasnportasi teraman, namun kenyataannya tidak seratus persen aman. Terdapat sejumlah kecelakaan besar yang melibatkan penerbangan komersial, terhitung sejak kelahiran perjalanan transportasi tersebut digunakan.

Namun Pada setiap bencana dalam perjalanan transportasi udara tidak ada yang tau dan tidak akan pernah ada yang mau berada dalam kejadian bencana perjalanan tersebut.

5 Kecelakan Terbesar Pesawat Dalam Penerbangan Dunia Yang Terjadi Pada Tahun 90 an

Pada kesempatan kali ini kami akan mengupas 5 Kecelakan Terbesar Pesawat Dalam Penerbangan Dunia Yang Terjadi Pada Tahun 90 an

1. Bencana bandar udara Tenerife (1977)

Bencana bandar udara Tenerife (1977)
Sumber : liputan6.com

Tabrakan maut antara dua pesawat Boeing 747 th. 1977 di landas pacu Tenerife merupakan bencana penerbangan komersial yang terburuk dalam sejarah, yang disebabkan oleh kelalaian manusia. Buruknya penilaian pilot dan situasi cuaca yang pas itu berkabut jadi segi lain penyebab terjadinya kecelakaan, di samping ada Info serangan teroris di lokasi tersebut.

Pada 27 Maret 1977, sebuah bom telah meledak di sebuah toko bunga di terminal Bandara Las Palmas, Kepulauan Canary. Saat itu, Pesawat KLM 4805 sedang menuju Las Palmas sesudah laksanakan penerbangan dari Amsterdam. Pada saat itu Pesawat Pan Am 1736 dari Bandara Kennedy, New York, terhitung bakal laksanakan pendaratan di Las Palmas. Namun sesudah bom meledak, dan ancaman teroris lainnya, Bandar Udara Las Palmas untuk pas di tutup. Kedua pesawat itu pun sesudah itu dialihkan menuju Bandara Los Rodeos di Tenerife, Kepulauan Canary. Keduanya mendarat bersama selang pas empat puluh menit di bandara tersebut.

Setelah ditutup sepanjang kurang lebih 4 jam, Bandara Las Palmas lagi dibuka. Kedua pesawat itu sesudah itu diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanannya menuju Las Palmas. Di sinilah awal bencana itu terjadi. Secara tidak benar ke dua pesawat itu telah diperkenankan masuk ke lintasan untuk terlepas landas terhadap pas yang bersamaan. Pesawat KLM 4805 meluncur pas ke arah pesawat Pan Am 1736. Seluruh kru kapal dan pilot Pan Am 1736 menyaksikan bersama sadar pesawat itu bergerak ke hadapan mereka bersama kecepatan tinggi lebih kurang 9 detik sebelum benturan terjadi. Pilot Pan Am 1736 coba untuk membelokkan pesawatnya ke arah kiri sambil berusaha terbang bersama kemampuan penuh, terlihat dari jalur KLM 4805. Namun tabrakan keduanya tetap tak terhindarkan.

Pesawat KLM 4805 berhasil terlepas landas, namun roda pendaratan, dan tidak benar satu mesinnya menabrak pesawat Pan Am 1736. Pesawat KLM 4805 tetap naik sejauh 30 meter, sebelum selanjutnya pilot semuanya kehilangan kendali. Pesawat KLM 4805 pun selanjutnya jatuh dan meledak, lebih kurang 230 mtr. dari tempatnya terlepas landas. Pesawat Pan Am 1736 yang tidak berhasil jauhi benturan, hancur jadi lebih dari satu keping, sesudah itu meledak akibat hantaman pesawat KLM 4805.

Tidak ada seorang pun penumpang yang selamat dari pesawat KLM 4805, terhitung pilot dan kru pesawat. Sementara penumpang selamat dari pesawat Pan Am berjumlah 61 orang dari total 335 penumpang pesawat tersebut. Jumlah korban tewas dari ke dua pesawat itu adalah 583 orang.

Setelah peristiwa mengerikan itu terjadi, penyelidikan yang amat ketat dikerjakan oleh pemerintah dan pejabat berwenang untuk sadar penyebab sebenarnya dari kecelakaan tersebut. Dari hasil penyelidikan diketahui bahwa Kapten Jacob van Zanten dari pesawat KLM 4805 jadi satu-satunya orang yang patut disalahkan di dalam peristiwa itu. Pilot KLM 4805 terlepas landas tanpa terima isyarat “clear”, yang berarti lintasan telah mampu dilalui sesudah ada perintah dari menara. Kesalahan lain Kapten Jacob van Zanten adalah tidak membatalkan terlepas landasnya pas sadar pesawat Pan Am 1736 berada di jalur lintasannya terhadap landasan yang sama.

Faktor lain penyebab kecelakaan itu adalah munculnya kabut yang memadai tebal di lebih kurang lintasan, dan kesalahan komunikasi dari petugas menara yang memanfaatkan logat Spanyol yang memadai kental di dalam menambahkan intruksi. Kapten pesawat Pan Am 1736 terima intruksi untuk membelokkan pesawatnya, namun ia tidak mendapatkan jalur untuk berbelok akibat kabut. Kecelakaan itu pun selanjutnya mengharuskan diadakannya pembuatan ketetapan baru dan tata tertata terkait pemakaian bhs di dalam instruksi lalu lintas udara, dan konfigurasi landasan pacu.

2. Japan Airlines Flight 123 (1985)

Japan Airlines Flight 123 (1985)
Sumber : sodadelka.blogspot.com

Pada 1985 lalu, dimana maskapai penerbangan terbaik di Jepang, Japan Airlines, mengalami sebuah tragedi memilukan setelah salah satu pesawat mereka dengan nomor penerbangan JL123, mengalami kecelakaan.

Japan Airlines 123 (JL123) bertabrakan di pegunungan Prefektur Gunma pada 1985, setelah lepas landas dari Bandara Haneda di Tokyo dalam penerbangan menuju Osaka. Dalam kecelakaan tersebut 520 orang, termasuk penumpang dan pilot, dinyatakan meninggal dunia.

Setelah 35 tahun berselang, warganet dikejutkan dengan adanya temuan memperlihatkan JL123 kembali mengudara, mendekati bandara Tokyo, hanya beberapa hari sebelum peringatan insiden mematikan tersebut.

Namun setelah kecelakaan itu terjadi, Japan Airlines menghentikan nomor penerbangan 123. Meski demikian, penerbangan dengan nomor tersebur muncul di situs web pelacakan Flight Radar 24 pada 5 Agustus lalu.

Kontan, warganet yang terkejut melihat kehadiran pesawat ‘hantu’ yang viral di Twitter melaporkan temuan tersebut ke pihak maskapai. Setelah adanya laporan, Japan Airlines mengatakan bahwa temuan itu merupakan kesalahan salah satu staf TI di perusahaan.

Pesawat yang dimaksud sebenarnya adalah penerbangan JL712 yang akan mengantarkan penumpang dari Singapura menuju Narita, Jepang.

Jubir Japan Airlines menuturkan, ada staf TI maskapai yang secara tidak profesional mengganti nama penerbangan pesawat menjadi JL123 dalam rentang pukul 11:56 hingga 12:22 waktu setempat.

Atas kejadian ini, Japan Airlines meminta maaf dan berjanji akan membina staf TI mereka, agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.

3. kecelakaan Charkhi Dadri Mid-Air Collision (1996)

kecelakaan Charkhi Dadri Mid-Air Collision (1996)
Sumber : icao.int

Pesawat terbang merupakan moda transportasi udara yang banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Selain mempercepat waktu, penggunaan pesawat terbang bisa lebih efisien karena mampu membawa barang lebih banyak. Pesawat juga bisa menjangkau lokasi-lokasi terpencil, meskipun harus menggunakan pesawat terbang dengan kemampuan khusus. Namun, perjalanan menggunakan pesawat juga memiliki risiko.

Pilot harus berhati-hati ketika sedang lepas landas dalam cuaca buruk. Selain itu, komunikasi antar-pilot yang bertugas dengan petugas bandara harus selalu terjalin. Pada 12 November 1996, dunia gempar karena kecelakaan udara besar yang terjadi. Dua pesawat itu terjadi saling tabrakan di udara, saat berada di wilayah India, yaitu Saudi Arabian Airlines Penerbangan 763 dengan Air Kazakhstan Penerbangan 1907. Dilansir dari New York Times, 351 penumpang beserta awak pesawat meninggal dalam tragedi tersebut. Ini menjadi peristiwa terburuk dalam sejarah penerbangan dunia.

Cerita Terjadinya Kecelakaan Saudi Arabian Airlines Penerbangan 763 berangkat dari Delhi pada pukul 18.32 waktu setempat. Para awak kokpit terdiri dari Kapten Khalid Al Shubaily, Petugas Pertama Nazir Khan dan Insinyur Penerbangan Edris. Sang kapten adalah pilot veteran dengan lebih dari 9.800 jam terbang. Boeing 747-168B milik Saudi Arabian Airlines membawa 289 penumpang & 23 anggota awak. dimana di waktu yang sama, Kazakhstan Airlines Penerbangan 1907 lepas landas dari Bandar Udara Internasional Shymkent, Kazakhstan, bermaksud turun ke Bandar Udara Internasional Indira Gandhi. Pesawat berjenis Ilyushin II-76TD membawa 27 penumpang dan 10 anggota awak. Kapten pesawat juga punya pengalaman lebih dari 9.200 jam terbang. Rencananya, Kazakhstan 1907 menggunakan ketinggian 4876 meter. Namun Pada Saat itu Juga, Saudi Arabian Airlines berada pada ketinggian 4.267 meter. Jarak antara keduanya hampir berdekatan. Pengendali ATC memberikan peringatan kepada kedua pesawat, namun kurang mendapat respons cepat. Ini mengakibatkan kedua pesawat mengalami tabrakan. Ekor Kazakhstan 1907 memotong melalui sayap kiri dan horizontal stabilizer 763 Saudi. Akibatnya, pesawat Boeing 747 milik Saudi Arabian Airlines kehilangan kendali dan meluncur ke arah tanah beserta percikan api pada sayapnya. Sementara Ilyushin II-76TD tak terkendali jatuh pada sebuah ladang.

Peristiwa tersebut memakan korban yang banyak. Lebih dari 300 orang tewas dalam tragedi tersebut. Dilansir dari The Independent, kesalahan pemahaman instruksi yang diterima pilot menjadi penyebab tabrakan kedua pesawat tersebut. Selain itu, pilot juga menurunkan armada pesawat yang mengakibatkan tabrakan. Investigasi terhadap jatuhnya tabrakan udara Charkhi Dadi dipimpin oleh Komisi Lahoti, yang dipimpin oleh hakim Pengadilan Tinggi Delhi Ramesh Chandra Lahoti dengan bantuan dari UK Air Accident Investigation Branch (AAIB). Di New Delhi seorang pakar penerbangan terkemuka menuding standar keselamatan India yang menjadi penyebab tragedi udara tersebut. Karena kecelakaan itu, laporan investigasi kecelakaan udara merekomendasikan perubahan pada prosedur dan infrastruktur lalu lintas udara di ruang udara New Delhi. Setelah peristiwa itu, otoritas penerbangan sipil di India mengharuskan semua pesawat terbang masuk dan keluar dari India untuk dilengkapi dengan sistem penghindar tabrakan di udara.

4. Pesawat Turkish Airlines Flight 981 dikabarkan jatuh di hutan Ermenonville, dekat Paris, pada 3 Maret 1974.

Pesawat Turkish Airlines Flight 981 dikabarkan jatuh di hutan Ermenonville, dekat Paris, pada 3 Maret 1974
Sumber : renaldomamora1998.blogspot.com

Semua awak kabin, berjumlah 346, tewas dalam kecelakaan Turkish Airlines Flight 981.

Sebelumnya, pesawat ini dijadwalkan terbang dari Yesilköy Int’l Airport ke London Heathrow Airport dengan persinggahan di Orly Airport.

Penyebab kecelakaan Turkish Airlines Flight 981 adalah pintu kargo di belakang pesawat terbuka sehingga menimbulkan dekompresi eksplosif yang memutus kabel-kabel penting yang dibutuhkan untuk mengendalikan pesawat.[1]

Turkish Airlines Flight 981 menggunakan pesawat McDonnell Douglas DC-10.

Pesawat ini memiliki tiga mesin General Electric CF6-6D.

Memiliki nomer registrasi TC-JAV, pesawat ini terbang perdana pada 1972.

McDonnell Douglas DC-10 memiliki c/n / msn 46704/29 dan total airframe hours sebanyak 2955.

Sementara cycle pesawat ini adalah 1537.

Kronologi

Pesawat Turkish Airflight 981 terbang dari Yesilköy Int’l Airport di Istanbul Turki pada 3 Maret 1974.

Tujuan penerbangan adalah London Heathrow Airport, dengan pemberhentian di Orly Airport, Paris.

Penerbangan Pesawat ini dikapteni oleh Nejat Berkoz yang berumur 44 tahun.

Nejat Berkoz sudah memiliki jam terbang 7.003 dan 438 jam di antaranya di jenis pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut.[3]

DC-10 membawa 167 penumpang dan kru 11 dan mendarat di Orly pada 11.02 untuk mengisi bahan bakar.

Kemudian ada juga tambahan penumpang sebanyak 216 orang di Orly.

Ketika semua persiapan semuanya sudah selesai, pesawat mendapat izin untuk bergerak ke runaway 08 pada 12.24.

Pesawat akhirnya lepas landas sekitar pukul 12.34 dan naik ke ketinggian FL60 pada 12.34.

Namun, tiga atau empat detik sebelum pukul 12.40, suara berisik dekompresi terdengar dan ko-pilot berkata bahwa badan pesawat rusak.

Ini disebabkan oleh pembukaan dan pemisahan pintu kargo tangan kiri di belakang.

Ada perbedaan tekanan di kargo dan kabin penumpang dan sebagian lantai di atas pintu kargo roboh.

Dua unit tempat duduk terlempar dari pesawat.

Semua stabilizer horizontal dan kabel kendali elecator yang berada di bawah lantai juga terputus.

Selain itu, daya mesin nomor dua juga hampir hilang seluruhnya.

Pesawat berbelok tajam 9 derajat ke kiri dan mengalami pitch nose down.

Beberapa saat kemudian pesawat jatuh di hutan Ermenonville, 37 km sebelah timur laut Paris.

5. American Airlines Flight 191 (1979)

American Airlines Flight 191 (1979)
Sumber : chicagotribune.com

Penerbangan American Airlines 191 adalah sebuah pesawat McDonnell Douglas DC-10-10 yang jatuh di kompleks perumahan Chicago, Illinois, Amerika Serikat saat hendak lepas landas dari Bandara Internasional O’Hare pada 25 Mei 1979. Kecelakaan ini menewaskan seluruh penumpangnya yang berjumlah 258 orang dan 13 awak, ditambah dua orang di darat[1] dan hingga kini merupakan kecelakaan pesawat terburuk dalam sejarah Amerika Serikat[2].

Pesawat yang sedang dalam perjalanan dari Chicago menuju Los Angeles dan telah bersiap untuk lepas landas. Saat lepas landas (tepatnya ketika rotate atau menaikkan hidung pesawat ketika lepas landas), mesin kiri pesawat terayun-ayun dan terlepas. Ketika terlepas, mesin tersebut mengenai bagian depan sayap dan merusak sistem hidraulis pesawat secara keseluruhan. saat mengetahui apa yang terjadi, pilot melambatkan kecepatan pesawat (kesalahan pelajaran sewaktu latihan) sehingga pesawat melayang miring ke kiri dan jatuh di lapangan kosong dekat tempat parkir trailer di ujung landasan[1]. Puing-puing mesin kiri pesawat ditemukan berceceran di landasan pacu sesaat setelah pesawat tersebut jatuh.

Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan ini berjenis McDonnell Douglas DC-10-10, yang dibeli baru oleh American Airlines tanggal 25 Februari 1972, dan telah terbang selama tujuh tahun (20.000 jam terbang)[3]. DC-10 yang ditenagai oleh tiga mesin General Electric CF6-6D. Kru Penerbangan 191 adalah Kapten Walter Lux, berusia 53 tahun, pilot paling berpengalaman di American; ia telah menerbangkan DC-10 sejak pesawat tersebut pertama kali diluncurkan delapan tahun sebelumnya. Ia memiliki 22.000 jam terbang, 3.000 di antaranya dengan DC-10. Ia juga berkualifikasi untuk menerbangkan Boeing 727, Douglas DC-6, dan Douglas DC-7[4]. Kopilot James Dillard, berusia 49 tahun dan Mekanik Udara Alfred Udovich, 56 tahun, juga berpengalaman dalam menangani DC-10. Mereka memiliki 1.830 jam terbang dengan DC-10 (total masing-masing 25.000 jam terbang)

Investigasi menemukan bahwa mesin kiri sudah mengalami kerusakan struktural sebelum terjadinya kecelakaan. kejadian Ini disebabkan pihak American Airlines merusak konstruksi pesawat (dengan memasang mesin kiri yang baru saja diservis dengan menggunakan forklift sehingga merusak struktur penyangga mesin, yaitu di sayap bagian belakang) saat diservis dengan alasan cepat dan murah. Prosedur ini juga dilakukan oleh Continental Airlines. Pihak penyelidik menemukan pesawat DC-10 Continental juga mengalami masalah yang sama (adanya retakan akibat proses pemasangan mesin yang tidak seharusnya). McDonnell Douglas, pembuat pesawat ini menyatakan “tidak merekomendasikan proses ini karena faktor risiko yang tinggi” dan memberi nasihat yang sama kepada American. Sebenarnya, terdapat satu cara cepat lain yang lebih aman untuk pemasangan mesin pesawat DC-10 – menggunakan derek sehingga lebih mudah untuk dikontrol dalam hal memasang mesin ke dalam penyangganya. Prosedur ini dilakukan oleh United Airlines. setelahkejadian kecelakaan itu terjadi, American Airlines didenda oleh pemerintah Amerika sebesar 500.000 dolar AS akibat kelalaian perawatan, yang menyebabkan hilangnya nyawa. Kecelakaan ini juga memperburuk citra McDonnell Douglas DC-10, yang pada waktu itu mengalami banyak insiden dan kecelakaan (salah satu yang terburuk adalah Turkish Airlines Penerbangan 981 serta Air New Zealand Penerbangan 901, yang jatuh pada bulan November tahun itu). Namun, penjualannya tetap bagus dan mengalahkan pesaingnya Lockheed L-1011 Tristar (meskipun tidak seperti yang diharapkan, terutama jika dibandingkan dengan Boeing 747). Saham McDonnell Douglas jatuh sebanyak 20 persen setelah kejadian ini. Tahun 1997, perusahaan ini diambil alih pesaingnya, Boeing.